Ampunilah Aku , Wahai Rabb!!!

imagesKisah ini terjadi pada awal abad ini , pada tahun 1909 M . Telah menceritakan kepadaku narasumber yang mengalami langsung peristiwa ini ; Saat saya pergi haji pada tahun 1965 M ; dan ia telah menginjak usia tua. Saat saya berziarah ke Hijaaz , tepatnya 3 tahun setelah pertemuan saya itu, saya mencari perihal keberadaannya di Madinah Munawwarah . Dia mempunyai usaha tempat makan kecil yang menjual makanan khas tanah air yang murah . Saya pergi ke toko dan ternyata orang tua ini telah meninggal dunia dan saya hanya bertemu dengan menantunya yang berkebangsaan asli saudi dan amat mulia lagi lemah lembut . Ia mengenaliku saat pertama kali ia melihatku . Ia pun menyambutku dan mengantar ke meja makan yang pernah saya duduki bersama mertuanya – Semoga Alloh merahmatinya – Ia menyampaikan padaku perihal kematian mertuanya . Ia menyuguhkan padaku makanan dan meninggalkanku tuk melayani pegawai-pegawainya. Aku pun duduk  sendirian sambil makan perlahan-lahan ; sedangkan suara orang tua itu berdengung-dengung di telingaku mengisahkan akan kisahnya … Dan inilah sebatas yang dapat saya kabarkan …

Lelaki tua ini bercerita : ” Saya dibesarkan di pedesaan kecil di Kairo , dan saya memulai kehidupanku dengan bekerja sebagai pegawai di usaha penjualan kain. Adalah direktur usaha ini memahami betul urusan  perdagangannya. Ia memahami bagaimana menjadikan usaha kecilnya ini sebagai usaha yang amat dihormati.Saya bekerja di tempat ini saat berusia 20 tahun. Si pemilik usaha ini kagum atas kegesitan dan kecerdasan saya , maka kerap kali ia memindahkan jabatan saya dari pegawai menjadi pelayan lalu menjadi penjual . Setelah 3 tahun saya pun diangkat sebagai bendahara yang memegang uang hasil penjualan kain .

Saya selalu bersemangat dan penuh perhatian hingga saya pun dapat menguasai pekerjaan ini. Kami bekerja dari jam 8 pagi sampai jam 8 malam / 12 jam full dengan hanya duduk saja dikursi tuk menerima uang…Setelah kerja saya menghadap direktur tuk memberikan hasil penjualan di hari itu dan melakukan hitung ulang. Setelah itu saya pun beranjak dengan lelah dan pusing saking lamanya kerja untuk makan di warung saudara saya dan melepas penat.

Seiring dengan itu, ibu saya kerap kali meminta agar segera menikah ; akan tetapi kerap kali itu pula saya akhirkan urusan pernikahan tuk masa yang akan datang dan berkata pada diri sendiri bila saya telah menyediakan 100 Junaih akan dapat membuka toko kecil untuk penjualan kain . kemudian saya mulai menabung sekeping demi sekeping dengan diliputi ketamakan untuk melakukan pencurian kecil-kecilan mulai dari 2 junaih per hari tanpa ada yang memerhatikan akan hal itu. Sehubungan dengan hal itu kepercayaan direktur pada saya amat besar dan sedikit demi sedikit saya mulai mengambil 100 Junaih…Dan saya pun mulai menaksir toko yang akan saya sewa . tatkala saya dalam kondisi demikian, tiba-tiba ibu saya ditimpa sakit parah yang mengantarkannya pada kematian  dan juga menghabiskan harta yang saya punya ; hingga saya tak memegang uang lebih dari 4 Junaih setelah pemakamannya.

Dunia terasa gelap dalam pandangan saya … 84 Junaih ludes dalam 3 bulan… Hanya Alloh yang mengetahui bagaimana saya mengumpulkan harta itu… dan hanya Alloh saja yang mampu mengampuni apa yang telah saya perbuat .

Pekerjaan di toko kami makin bertambah dari hari ke hari…Direktur membeli 2 toko yang berdempetan dan meluaskan tokonya…dan saya pun menjabat selaku direktur keuangan dengan gaji yang amat besar juga memiliki kantor kecil dalam toko disamping ruangan Ustadz Salaamah. Saya letakkan ratusan junaih kedalam lemari disamping saya . Saya tutup pintu ruangan dan melihat kepada tumpukan uang yang ada di lemari dan saya merasakan perasaan yang aneh dan menggambarkan bahwa saya mengambil uang yang banyak ini dan meletakkannya dalam saku untuk membeli toko hingga dapat menjadi pedagang yang dihormati layaknya Ustadz Salamah.

Saat itulah saya mulai mengenal gadis cantik yang mana ia adalah putri seorang pegawai yang dihormati. Saya mencintainya dan ingin menikah dengannya ; maka saya datang menghadap pada keluarganya dengan ditemani saudara saya guna melamar putri mereka . Tatkala mereka mengetahui bahwa saya bukanlah putra direktur toko , mereka tolak saya dengan kasar dan mengusir saya juga saudara saya …Bertambahlah dunia gelap dalam pandangan mata saya…Saya mencoba tuk melupakan gadis itu-Namanya Samiirah-tetapi tak kunjung bisa . Mereka memperingati saya tuk melaporkan pada direktur bilaman saya masih ingin mendekati putri mereka…maka mereka mengabari sang direktur . Direktur pun masuk menemui saya dan berbicara dengan perkataan yang pedas serta menjelek-jelekkan saya atas apa yang telah saya perbuat…Hari itu saya amat tersakiti…saya pun menangis…

Saya memiliki kerabat yang bekerja sebagai pedagang di Saudi yang datang pada kami tuk membeli barang dagangan . Persahabatan yang kuat telah mengikatku dengannya, ia kerap kali melewati masa begadangnya bersama saya sewaktu di Kairo. Di hari yang kelam itu pula ia datang pada saya dan kami pun berjalan bersama menelusuri jalan Kairo, maka saya ceritakan padanya perihal hal ini maka ia bertanya:

” Apakah Gadis itu mencintaimu ? “

” Saya yakin ia mencintai saya “

” Mengapa kamu tak menikahinya dan kabur dengannya ? “

Maka saya berhenti dengan heran dan berkata padanya :

” Saya kabur bersamanya ? “

” Tentunya setelah engkau nikahi “

” Siapa yang akan menikahkan saya dengannya ? “

” Siapa saja lelaki dari kerabatnya yang mewakilkannya atas gadis itu , dan kami akan turut hadir menjadi saksi dan kita nikahkan engkau dengannya “

” Lalu kemana saya akan pergi setelah itu ? “

” Engkau pergi bersama saya … dan saya akan membantumu”

Saya pun melalui malam dengan berpikir panjang … siapa gerangan yang akan menikahkan saya dengan Samiirah..? Maka datanglah jawaban : Anak pamannya yaitu Abbas . Ya..Abbas adalah teman saya yang seumuran dengan saya yang mana dahulu kami sekolah bersama . Dia sekarang bekerja sebagai pegawai di Departemen Keuangan. Ia membenci ayah Samiirah yang kerap kali menyombongkan diri padanya. Tatkala ia mendengar peristiwa ini , ia pun marah demi saya dan berusaha meringankan beban saya.

Saya pergi menemuinya setelah dzuhur pada hari jum’at…Saya tawarkan padanya agar membantu saya dalam prosesi pernikahan dengan Samiirah maka ia berjanji akan menelaah urusan secepatnya …Dan selang beberapa hari ia datang dan meminta pada saya agar bersiap-siap untuk menikah…Setelah dzuhur kami pun menikah…Dan kembalilah gadis itu ke rumahnya sedangkan keluarganya tak tahu akan hal ini…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s